PERUBAHAN SOSIOLOGI KEMASYARAKATAN

>> Monday, 3 March 2014


1.       KASUS EMANSIPASI PEREMPUAN DALAM FILM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
      Ini adalah sebuah kisah pengorbanan seorang perempuan, Seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Anissa, seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur yang konservatif.
      Sejak kecil Annisa sering protes mengapa yang boleh jadi pemimpin itu hanya laki-laki tetapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Beranjak dewasa di lingkungan pesantren Annisa diam-siam berani menyeliapkan buku-buku modern untuk santri di Pesantren. Secara diam-diam pula, Anissa mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tapi Kyai Hanan tidak mengijinkan, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Anissa merengek dan protes dengan alasan ayahnya, tapi tidak ada daya. Annisa dinikahkan dengan seorang yang tidak dicintainya, tapi Annisa tetap memperjuangkan agar kedudukan wanita itu sama dengan laki-laki.

2.       PEMBAHASAN IDEOLOGI SEBAGAI SUMBER PERUBAHAN SOSIAL
      Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan.. Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif.
Ideologi atau gagasan yang ditampilkan di film “Perempuan Berkalung Sorban” adalah sebuah ideologi atau gagasan dari Annisa yaitu sebagai berikut :
  1. Kedudukan / peran perempuan agar sama dengan laki – laki contohnya perempuan bisa memimpin,dapat pendidikan yang tinggi seperti laki-laki.
  2. Menghilangkan streotipe bahwa perempuan yang hidup di lingkungan pesantrenpun harus memiliki wawasan luas tentang dunia misalnya menyelipkan buku – buku modern untuk dibaca santri.
      Gillin dan Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat.
      Samuel Koenig menjelaskan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern atau sebab-sebab ekstern. Selo Soemardjan menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi  sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain.
      Sumber dari perubahan sosial yang mempengaruhi terjadi perubahan sosial adalah teknologi, ideologi, ekonomi dan politik, inovasi kebudayaan, kompetisi dan konflik, event dan penduduk, serta lingkungan fisik.
      Di samping adanya faktor-faktor yang mendorong perubahan sosial, maka sebaliknya ada pula faktor-faktor yang menghambat. Ada beberapa indikator yang merupakan faktor penghambat proses perubahan sosial, yaitu sebagai berikut :
·         Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
·         Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
·         Sikap masyarakat yang sangat tradisional
·         Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam kuat
·         Perasaan takut akan terjadinya kegoyaha pada integrasi kebudayaan
·         Prasangka terhadap suatu difusi / hal-hal asing / hal- hal baru
·         Ideologis
·         Adat dan kebiasaan
      Berdasarkan hal di atas, ideologi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi / sumber dari perubahan sosial tetapi juga dapat menjadi penghambat dari terjadinya perubahan sosial.
      Berdasarkan kasus yang terjadi di Film “Perempuan Berkalung Sorban” ini ideologi berperan sebagai penghambat dari perubahan sosial tetapi Annisa memperjuangkan gagasannya sehingga juga menjadi sumber perubahan sosial.
  1. Ideologi sebagai penghambat perubahan sosial
      Film “Perempuan Berkalung Sorban” ini menceritakan tentang sebuah pondok pesantren yang konservatif, di mana segala sesuatu yang berasal dari luar akidah yang diyakini seperti hal-hal yang modern tidak diterima dan tidak diterapkan untuk santrinya. Pada film ini pun dijelaskan bahwa kedudukan perempuan ini sebenarnya adalah di bawah laki-laki sehingga kedudukan dan peran dari laki-laki dan perempuan itu berbeda.
      Ideologi yang seperti itulah membuat santri – santri di Pesantren tersebut menjadi penghambat perubahan sosial, karena yang seperti kita ketahui bahwa era Kartini sudah terjadi perubahan sosial yang mana perempuan menempati kedudukan yang setara dengan laki-laki. Namun, iedologi di Pesantren itulah yang menjadi penghambat gerak perubahan santri-santrinya.
  1. Ideologi sebagai sumber perubahan sosial
Ideologi atau gagasan yang dikemukaan oleh Annisa dalam cuplikan Film “Perempuan Berkalung Sorban” itu adalah sebuah terobosan baru untuk kalangan perempuan yang hidup di Pesantren sehingga dapat membawa perubahan yang besar pada santri – santri selanjutnya.
Adapun ideologi atau gagasannya adalah sebagai berikut :
a) Kedudukan / peran perempuan agar sama dengan laki – laki contohnya perempuan bisa memimpin,dapat pendidikan yang tinggi seperti laki-laki.
b)  Menghilangkan streotipe bahwa perempuan yang hidup di lingkungan pesantrenpun harus memiliki wawasan luas tentang dunia misalnya menyelipkan buku – buku modern untuk dibaca santri.
Ideologi atau gagasannya tersebut memang tidak langsung membawa perubahan sosial dengan cepat tetapi banyak sekali rintangan dan hambatan yang menyertai sehingga perubahan sosial yang terjadipun adalah perubahan sosial dalam bentuk lambat.

Kesimpulan :
Ideologi atau gagasan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi atau sumber dari perubahan sosial, tetapi ideologi juga dapat menjadi faktor penghambat terjadinya perubahan sosial. Hal itu tergantung dari bentuk ideologi atau gagasannya, streotipe masyarakat, ataupun usaha yang dilakukan oleh masyarakat.

Read more...

PARADIGMA DALAM PERKEMBANGAN ILMU AKUNTANSI

>> Friday, 22 November 2013

PARADIGMA DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN AKUNTANSI

Oleh
Bayu Sakti Wicaksono
NIM. 136020300111019


I.          Pendahuluan
      Sejatinya ilmu pengetahuan yang terdapat dalam dunia sekarang bisa dikategorikan dalam dua hal yakni pada hal yang bersifat alamiah (natural) dan masyarakat (society). Dewasa ini perlu dilakukan berbagai pengembangan ilmu pengetahuan untuk mengeksplorasi apa yang terdapat dalam dua hal tersebut. Namun untuk mengesplorasi kedua hal yang merupakan sesuatu yang penting tersebut, diperlukan cara pandang untuk memecahkan masalah tersebut. Akan tetapi pada saat ini para peneliti yang ingin memecahkan masalah tersebut hanya berfokus pada satu paradigma. Dalam hal ini biasa disebut dengan paradigma positivism atau dalam istilah sosiologi digunakan dengan istilah functionalist sosiology. Menurut para pengguna atau aliran paradigma positivism, mereka menganggap suatu masalah yang timbul dapat diselesaikan dengan cara menggunakan paham objektif. Akan tetapi terkadang sesuatu masalah tersebut menurut penulis tidak dapat diselesaikan bila hanya menggunakan pandangan objektif. Perlu pula bila suatu penelitian menggunakan pendekatan subjektif dalam melakukan penelitian. Dikarenakan terdapat beberapa penelitian yang berguna dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa hanya diselesaikan dengan menggunakan pendekatan objektifitas
      George Ritzer mengemukakan pikirannya mengenai paradigma: “yaitu paradigma menentukan masalah apa yang akan diteliti, pertanyaan penelitian yang akan diajukannya, caranya mengajukan pertanyaan penelitian, dan aturan yang diikutinya dalam menafsirkan temuan penelitiannya”. Menurut Ritzer untuk memecahkan suatu permasalahan dalam peneliti dalam suatu ilmu pengetahuan maka diperlukan suatu paradigma yang tepat untuk memecahkan masalah yang tepat. Dikarenakan sungguh tidak tepat bila memecahkan suatu permasalahan tetapi paradigma yang digunakan tidak cocok untuk memecahkan masalah itu. Justru yang terjadi masalah akan semakin banyak. Misalnya sebuah permasalahan yang cocok digunakannya dengan menggunakan paradigma interpretif yang penelitian tersebut bertujuan untuk memahami dan mencari fenomena yang ada, malah justru menggunakan paradigma positivism. Selain dari paradigma yang digunakan dalam hal pertanyaan yang diajukan dalam mencari data yang digunakan memecahkan suatu permasalahan juga tergantung dari permasalahan yang dihadapi. Misalnya dalam hal ini pemecahan masalah yang sebaiknya menggunakan pertanyaan yang tidak terstruktur justru yang digunakan adalah pertanyaan yang tertutup atau yang lebih dikenal dengan kuesioner. Yang akan terjadi justru terjadi bias dalam penelitian. Bias penelitian yang dimaksud adalam ketidakcocokkan antara instrument atau alat yang digunakan untuk memperoleh data dengan tujuan penelitian. Sehingga dalam memecahkan masalah yang digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan maka perlu digunakan paradigma yang tepat agar masalah yang ada dapat dipecahkan oleh peneliti.
II.       Pembahasan
      Kuhn menjelaskan pandangan dengan apa yang dinamakan sebagai paradigm. Istilah ini tidak dijelaskan secara konsisten, sehingga dalam berbagai keterangan sering berubah konteks dan arti. Pemilihan kata ini erat kaitannya dengan sains normal, yang oleh Kuhn dimaksudkan untuk mengemukakan bahwa seberapa contoh praktik ilmiah nyata yang diterima (yaitu contoh-contoh yang sama-sama menyangkut dalil, teori, penerapan dan instrukmentasi) telah menyajikan model-model daripadanya lahir tradisi-tradisi tertentu dari riset ilmiah. Atau dengan kata lain, sains normal adalah kerangka referensi yang mendasari sejumlah teori maupun praktik-praktik ilmiah dalam periode tertentu. Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa sains normal, dimana para ilmuwan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkannya secara terperinci dan mendalam, karna tidak sibuk dengan hal-hal yang mendasar. Dalam fase ini, ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktivitas ilmiahnya, dan selama menjalankan riset ini, ilmuwan bisa menjumpai berbagai fenonema yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya. Inilah yang disebut anomali. Jika anomali ini kian menumpuk dan kualitasnya semakin meninggi, maka bisa timbul krisis. Dalam krisis inilah, paradigma mulai dipertanyakan. Dengan demikian, sang ilmuwan sudah keluar dari sains normal. Untuk mengatasi krisis itu, ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara itu atau mengembangkan suatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan bimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi ilmiah.
      Menurut pendapat yang dikeluarkan oleh Denzin & Lincoln (1994:107) paradigma yang ada harus berdasarkan pada tiga hal yang penting yakni pada aspek ontology, epistemological maupun methodological. Karena tanpa adanya ketiga aspek penting ini maka tidak akan ada yang disebut paradigma. Sehingga dapat dikatakan paradigma menurut Denzin dan Lincoln (1994) paradigma adalah suatu pandangan peneliti mengenai bagaimana hakikat dari suatu realitas yang ada, alasan peneliti tersebut ingin mengetahui realitas dan dengan cara apa peneliti tersebut ingin mengetahui realitas tersebut. Sehingga dapat dikatakan ketiga aspek yang dikemukakan oleh Denzin dan Lincoln merupakan pondasi awal jika suatu peneliti ingin memecahkan suatu permasalahan dalam pengembangan ilmu pengetahuan maka peneliti tersebut harus berdasarkan ketiga aspek tersebut.
      Namun, menurut Creswell (2007:18) harus terdapat dua hal lagi selain aspek ontology, epistemology, dan metodology yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan suatu masalah yakni aksiologi dan rhetorical. Pada aspek rhetorical memuat nilai tentang bagaimana bahasa yang harus digunakan dalam penelitian agar audiens dapat memahami apa yang disampaikan. Karena akan percuma walaupun sebuat pandangan sudah memenuhi ketiga aspek yang lain namun bahasa yang digunakan tidak tepat. Selain itu terdapat pula aspek aksiologi menurut Creswell (2007:18) merupakan peranan nilai yang terdapat dalam penelitan tersebut. Karena bila suatu penelitian tidak mempunyai peranan nilainya maka dapat penulis katakana penulis tersebut tidak berarti dalam kalangan masyarakat atau bisa juga dikatakan tidak berguna dalam kehidupan masyarakat.
      Berdasarkan dari kelima aspek tersebut yakni ontologis, epistemology, metodologi, aksiologi dan retorika maka akan banyak bermunculan paradigma yang terdapat dalam pengembangan ilmu pengetahun. Seperti paradigma yang telah dikembangkan oleh Burrell dan Morgan (1979) menjadi empat paradigma yaitu paradigma positivism, interpretif, radical humanist dan radical strukturalis. Kemudian terdapat peneliti lain yang membuat paradigmam menjadi tiga yang merupakan pengembangan dari paradigma yang telah dibuat oleh Burrell dan Morgan (1979) yakni Chua (1986) dalam jurnal yang berjudul Radical Develoments in Accounting Thought. Chua (1986) membagi paradigma tersebut menjadi tiga paradigma yaitu paradigma positivism, interpretif dan kritis. Paradigma kritis yang dibangun oleh Chua merupakan pengabungan dari paradigma radical humanist dan radical strukturalis. Namun Sarantakos (1993) mengklasifikasikan paradigma penelitian menjadi empat, yaitu: (1) positivist paradigma, (2) interpretivist paradigma, (3) critical paradigma, dan (4) postmodernist paradigma. Sehingga dapat penulis katakan bahwa paradigma-paradigma yang dibangun oleh para peneliti merupakan ilmu pengetahuan yang berbasis mulitparadigma. Dengan adanya ilmu pengetahuan yang berbasis multiparadigma maka segala masalah yang terdapat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dapat diselesaikan dengan berbagai pandangan, tidak hanya cukup dengan satu pandangan. Suatu permasalahan dalam ilmu pengetahuan yang hanya diselesaikan dengan satu pandangan mungkin dianggap benar dalam salah satu pandangan. Akan tetapi mungkin menurut pandangan orang lain permasalahan tersebut belum bisa dipecahkan. Kita ketahui bersama kebenaran dalam dunia ini tidak ada, baik dalam ilmu pengetahuan.
      Sehingga dengan adanya ilmu pengetahuan yang berbasis multiparadigma maka suatu permasalahan yang ada tidak hanya diselesaikan dari satu paradigma yang dianggap banyak kalangan dapat memecahkan semua masalah, akan tetapi perlu juga memecahkan masalah yang ada dengan menggunakan berbagai paradigma yang terdapatnya perbedaan hasil dalam pemecahan masalahnya. Selain itu, dengan adanya ilmu pengetahuan yang berbasis multiparadigma maka ilmu pengetahuan yang ada dapat berkembang lebih luas. Tidak terkotak dalam satu mindset yang terbungkus rapi. Yang tidak bisa dibongkar atau dikelola lebih baik. Tetapi lebih pada pengembangan ilmu pengetahuan tersebut yang dipandang dari beberapa paradigma. Karena menurut penulis suatu ilmu pengetahuan yang hanya dipandang dari satu sudut dalam proses pengembangannya akan tidak berkembang. Misalnya suatu ilmu pengetahuan dalam hal ini akuntansi, hanya dipandang dari paradigma positivism, maka sesungguhnya akuntansi tersebut tidak akan berkembang. Karena akuntansi bukan hanya sekedar pencatatan maupun pembuatan laporan keuangan, tapi akuntansi dapat lebih berkembang. Perkembangan ilmu akuntansi tidak hanya sebatas pada financial accounting atau yang berbasiskan pada angka. Akan tetapi terdapat aspek-aspek lain di luar angka yang dapat mempengaruhi perkembangan akuntansi tersebut misalnya psikologi, politik, budaya, sosiologi maupun aspek-aspek lain yang di luar angka-angka tersebut. Sungguh sangat naif jika kita beranggapan bahwa suatu ilmu pengetahuan hanya bisa dikembangkan melalui satu paradigma saja. Sehingga menurut penulis ilmu pengetahuan berbasis multiparadigma perlu dikembangkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sesuai dengan pendapat penulis di atas ilmu pengetahuan yang ada harus berbasiskan multiparadigma. Dikarenakan suatu pemecahan dalam pengembangan ilmu pengetahuan tersebut tidak hanya bisa dikembangkan dari satu paradigma, akan tetapi harus menggunakan berbagai paradigma. Sehingga bisa menjadi dasar pertimbangan bagi berbagai kalangan terhadap ilmu pengetahuan itu.
III.    Penutup
      Perkembangan ilmu pengetahuan erat terkait dengan paradigma dan model atau skema interpretasi tertentu yang digunakan oleh ilmuwannya. Cara ilmuwan memandang dunia menentukan dunia macam apa yang dilihatnya itu. Jadi pengetahuan sama sekali bukan plagiarism realitas, melainkan realitas hasil kontruksi manusia. Dan bahwa paradigma yang mendasari konstruksi itu di terima dan dipercayai oleh komunitas para ilmuwan, bukan terutama karna para ilmuwan itu tahu bahwa itu yang benar, melainkan karna mereka percaya bahwa itu yang terbaik, yang paling memberi harapan bila digunakan dalam riset-riset selanjutnya. Salah satu ciri perkembangan ilmu pengetahuan adalah perhatian terhadap sejarah ilmu dan filsafat sains. Dan peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksikan wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang terjadi. Sejarah ilmu merupakan starting point dan kaca mata utamanya dalam menyoroti permasalahan-permasalahan fundamental dalam epistemologi, yang selama ini masih menjadi teka-teki. Sains pada dasarnya lebih dicirikan oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya. Dan Dalam perkembangan ilmu pengetahuan selalu terdapat dua fase yaitu; normal science dan revolutionary science. Singkatnya, normal science adalah teori pengetahuan yang sudah mapan sementara revoutionary science adalah upaya kritis dalam mempertanyakan ulang teori yang mapan tersebut dikarenakan teori tersebut memang problematis.

IV.    Pustaka
Burrell, G dan G. Morgan, 1979, Sociological Paradigms and Organisational Analysis: Elements of The Sociology of Corporate Life. Heinemann Educational Books, London
Chua, Wai Fong. 1986. Radical Developments in Accounting Thought. The Accounting Review, Vol 61, No 4.
Creswell, John,W. 2007. Qualitative Inquiry & Research Design Choosing Among Five Approaches. Sage Publication. New Dehli
Kuhn, Thomas., 2005. The Structure of Scientific Revolutions (Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains), Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
M. Gaffikin. 2006. The Critique of Accounting Theory. University of Wollongong



Read more...

REVIEW JURNAL “ISLAMIC ACCOUNTING ANTHTROPOLOGY: AN ALTERNATIVE SOLUTION TO SOLVE MODERNITY PROBLEMS” dan BUKU “THE PROTESTANT ETHIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISM”

>> Wednesday, 25 September 2013


Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethnic mengemukakan pendapat bahwa di masa eropa modern para pemeluk Kristen Protestan yang terdiri dari pedagang besar, pemilik modal maupun tenaga kerja terampil memiliki keyakinan untuk bekerja keras dengan memanfaatkan sumberdaya yang minimal guna mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya untuk memperoleh kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan. Hal ini sesuai dengan ajaran gereja bahwa anugerah dari Tuhan di wujudkan dalam bentuk etos kerja dari individu untuk mendorong seseorang untuk bekerja keras dalam usahanya untuk memperoleh kasih sayang Tuhan sehingga bisa bahagia di dunia dan akhirat. Sedangkan protestan memiliki keinginan yang kuat dan tertarik untuk meningkat dan berkembang. Weber mengamati bahwa Protestan memberikan nilai yang positif terhadap dunia material yang bersifat kodrati. Sikap seperti itu berhubungan erat dengan pandangan hidup protestan untuk bekerja sebagai ibadah.
      Pemeluk protestan menerapkan nilai-nilai dari pemikiran terhadap pemahaman atas masalah umum dimana ide (daya pikir) seseorang menjadi kekuatan yang efektif untuk menggerakkan ekonomi. Pemikiran ini merupakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah bersifat manusiawi, akan tetapi yang menentukan tingkat kemakmuran yang dicapai seseorang lebih ditentukan oleh sikap dan perilaku orang tersebut dalam memenuhi kebutuhannya. Perilaku dalam aktivitas ekonomi di Eropa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang telah mengakar dengan kuat yakni etika protestan dimana hal ini mendorong berkembangnya pengaruh kapitalisme di eropa. 
      Salah satu elemen dasar dari perkembangan kapitalisme adalah perilaku rasional yang didasarkan pada panggilan Tuhan sesuai dengan kotbah gereja. Weber mendeskripsikan bahwa dunia beserta isinya adalah pemberian dari Tuhan yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kerja dianggap sebagai ibadah yang bersifat mutlak dan suci. Kerja juga dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Weber beranggapan bahwa jika pemeluk protestan tidak mau bekerja dan bersifat malas-malasan maka itu akan menjadi dosa bagi individu yang bersangkutan. Dengan kata lain, ketaatan yang utama dari pemeluk protestan dapat diukur dari gairah dan etos kerja yang dimiliknya. Semakin banyak harta yang dimilikinya, maka semakin tebal keimanan individu tersebut. Begitu juga sebaliknya semakin sedikit harta yang dimiliki dapat diartikan keimanannya terhadap Tuhan juga rendah. Logika inilah yang menjadikan asumsi sekaligus memiliki hubungan yang searah antara ketaatan dan kemampuan ekonomis yang dimiliki oleh pemeluk protestan. Kerja merupakan suatu tujuan peribadi dari setiap orang, kerja tidak dipandang sebagai kegiatan yang incidental. Masyarakat kapitalis memandang manusia terutama sebagai pekerja dan tidak peduli apapun yang menjadi pekerjaan mereka. Inilah yang menjadi dasar perilaku dari masyarakat kapitalis. 
Weber juga menambahkan bahwa kapitalisme di eropa dapat berkembang karena nilai-nilai askestis dalam ajaran protestan. Pemikiran untuk tidak cepat puas dengan keberhasilan yang telah dicapai adalam asumsi dasar dari pemikiran ini. Dalam pandangan Weber tentang relasi antara kapitalisme dan agama protestan ini adalah kapitalisme yang didasarkan bukan pada keinginan untuk mengumpulkan keuntungan semata. Namun sebuah aktifitas rasional yang menekankan pada keteraturan, disiplin, hirarki dalam sebuah organisasi. Dalam pemikiran Weber seharusnya kapitalisme tidak hanya mementingkan harta dan kekayaan saja dalam mencapai kebahagiaan, karena tidak selamanya kebahagiaan ditentukan secara material dari kekayaan yang dimiliki seseorang. Walaupun sebenarnya dalam konteks kapitalisme hal tersebut adalah wajar.
Weber memperlihatkan bahwa ajaran protestan tertentu mendukung pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional dan bahwa kegiatan-kegiatan duniawi telah memperoleh semangat spiritual dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari tujuan-tujuan keagamaan tersebut, melainkan lebih sebagai produk sampingan. Logika inheren dari doktrin-doktrin tersebut dan saran-saran yang didasarkan pada pada pemeluk protestan baik yang secara langsung maupun tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan diri demi pengejaran keuntungan ekonomi.
Karakteristik kapitalisme modern menurut Weber adalah sebagai berikut:
1. Adanya usaha-usaha ekonomi yang diorganisir dan dikelola secara rasional di atas landasan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan berkembangnya kekayaan pribadi.
2.    Berkembangnya produksi untuk pasar.
3.    Produksi untuk masyarakat melalui masyarakat.
4.    Produksi untuk mendapatkan kekayaan.
5.    Adanya antusiasme, etos kerja dan efisiensi maksimal yang menuntut manusia untuk bekerja keras.
      Weber mengemukakan adanya wewenang dalam hubungan manusia yang menyangkut juga hubungan dengan kekuasaan. Menurut Weber, wewenang adalah kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang diterima secara formal oleh anggota masyarakat. Sedangkan kekuasaan dikonsepsikan sebagai suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain tanpa menghubungkannya dengan penerimaan sosialnya yang formal. Dengan kata lain, kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi atau menentukan sikap orang lain sesuai dengan keinginan si pemilik kekuasaan.
Dalam perkembangannya, kapitalisme merupakan semangat yang sering mendapatkan penekanan adalah sebagai usaha, berani mengambil resiko, persaingan dan keinginan untuk mengadakan inovasi. Tata nilai yang memadai kapitalisme ( terutama di negara Anglo Saxon ) adalah individualisme, kemajuan material dan kebebasan politik. Pertumbuhan kapitalisme, dan terutama industrialisasi oleh kapitalis, juga berarti melahirkan kelas pekerja yang besar dinegara yang lebih maju. Sering berdesakan didaerah yang kotor di kota-kota industri yang baru berkembang, jam kerja yang lama dengan upah yang rendah dan dalam keadaan yang menyedihkan dan tidak sehat, kehilangan lembaga pengatur yang terdapat di daerah asalnya, dan untuk selama beberapa dekade disisihkan sama sekali dari proses politik – pekerja dieropa tak dapat diabaikan untuk keberhasilan kapitalisme dan juga merupakan persoalan sosial dan politik yang paling besar selam tingkat permulaan kapitalisme industri ini.Seiring berjalannya waktu, prospek kapitalisme tidak begitu cerah seluruhya segera sesudah terjadinya krisis finansial yang melanda Amerika Serikat yang kemudian berdampak bagi negara-negara lain. Banyak para kalangan yang mengatakan bahwa ini adalah saatnya kehancuran kapitalisme.
Dengan kegagalan kapitalisme membangun kesejahteran umat manusia di muka bumi, maka isu kematian ekonomi kapitalis semakin meluas di kalangan para cendikiawan dunia. Kapitalisme yang telah melanda seluruh dunia mau tidak mau harus dilawan dengan mewujudkan sistem ekonomi yang mandiri. Salah satu alternatifnya adalah ekonomi Islam.
Akuntansi memainkan peran pendukung dalam kapitalisme yang mengutamakan keuntungan, akumulasi kekayaan, dan orientasi pasar. Kepentingan pribadi menjadi tujuan utama pada hubungan Ekonomi, Keuangan dan Akuntansi. Kepentingan pribadi sebagai kunci dari masalah modernitas karena individualismenya. Penekanan pada “individu” bukan “ummah” seperti maqashid syariah, telah memperbesar kesenjangan, ketidakseimbangan, dan kehancuran. Jika akuntansi Barat mempertahankan dominasi evolusionisme berdasarkan Kristen Protestan dan Yahudi, maka sekali lagi akuntansi akan menjadi turunan kapitalisme yang kini telah berevolusi menjadi neo-liberalisme.
Perkembangan Islamic Accounting tidak sepenuhnya bebas dari neoliberalisme yang menjebak dalam dua hal. Pertama, di bawah evolusionime budaya, akuntansi harus berkembang ke pengukuran materialistis yang lebih baik karena bertujuan untuk mencapai pertumbuhan inkremental kebahagiaan manusia melalui pencapaian pertumbuhan laba, terhadap representasi nilai – nilai zakat. Kedua, di bawah pengaruh pandangan orientalis yang menganggap bahwa segala sesuatu berevolusi untuk modernitas seperti yang dirasakan oleh Barat sehingga  mengadopsi akuntansi sekuler untuk mempengaruhi dan mengendalikan Islamic Accounting Standard Setter melalui pemakaian dan reproduksi akuntan yang dipengaruhi oleh pola pikir Barat. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian Mulawarman dan Kamayanti untuk memecahkan masalah modernitas (kapitalisme) melalui Islamic Accounting Antropology yang berbeda dalam hal fungsional, primitive-modern dan pandangan superioritas budaya atas antropologi Barat.
Di bawah evolusionisme, Islamic Accounting telah berkembang sejalan dengan modernitas dalam masyarakat baik dari pandangan global (Accountants dan Auditors of Islamic Financial Institutions) dan pandangan lokal (Indonesia – Ikatan Akuntan Indonesia). Sebagian besar anggota AAOIFI mempunyai latar belakan lembaga keuangan, yaitu perbankan dan asuransi serta perusahaan yang bertindak sebagai pengambil keputusan. Hal ini akan mengarahkan hasil keputusan AAOIFI yang sebagian besar mengutamakan kepentingan investor. Dalam pandangan lokalpun tidak bisa terlepas dari akuntansi positif neo-liberal.   Perkembangan akuntansi positif neo-liberal di Indonesia sangat dipengaruhi oleh gerakan ekonom yang dibentuk oleh pola pikir kapitalis melalui pendidikan (pemberian beasiswa untuk akademisi Indonesia) yang dikenal sebagai “The Mafia Berkeley”. Mafia Berkeley merupakan gerakan “kepemimpinan intelektual/ moral”, istilah yang diperkenalkan Gramsci (1971), untuk melegitimasi dominasi Barat. Anggota Dewan Standar Akuntansi Syariah (IAI) – pun sebagian besar merupakan akuntan publik, asuransi dan perbankan sehingga perusahaan akuntansi Amerika mungkin memiliki peran sentral dalam menentukan standar syariah. Selain itu, adanya pandangan akuntansi positif yang menganggap universalitas dan keseragaman sebagai kunci untuk modernisasi memaksa diberlakukannya IFRS di Indonesia. Pada gilirannya, DSAS kemudian mengadopsi kerangka konseptual IFRS. Pernyataan Standar Akuntansi Syariah 101 – 102 mengadopsi akuntansi konvensional yang berorientasi pada akumulasi modal (tercermin dala Profit and Loss Sharing/PLS). Hal ini menyebabkan egoisme pemilik modal dan manajer bukannya kesejahteraan ummah.
Secara konseptual, baik AAOIFI dan IAI masih menetapkan standar akuntansi syariah berdasarkan Entity Theory yang mengikuti akuntansi positif dengan mencerminkan kepentingan pribadi ‘iman’ dalam dua poin, yaitu:
1.      Pemisahan korporasi/ perusahaan sebagai tindakan entitas sebagai pembatasan tanggung jawab pemilik.
2.      Keduanya menghasilkan Laporan Laba Rugi, dimana pendapatan ditujukan untuk pemegang saham. AAOFI menambahkan laporan Statement of restricted account untuk deposit dan investasi yang dilakukan oleh deposan berdasarkan mudharabah muqayyadah, statement of Qard Hassan, dan Statement of Zakat and Charity Fund. Hal itu dibuat agar lebih islami (Latifah, Asfadillah dan Sukmana, 2012).
AAOIFI dan IAI terjebak dalam konsep logika ‘profit and market’ konvensional. Kepentingan ummah berganti menjadi kepentingan pasar. Hal ini menunjukkan bahwa nilai zakat telah diabaikan. Islamic Accounting Antrhropology harus mampu menemukan makna dan konsep dasar spiritual yang didasarkan pada nilai-nilai zakat, bukan hanya rincian teknis semata.  
Peneliti menggunakan diffusionism sebagai pendekatan antropologis untuk melihat perkembangan Islamic Accounting. Dalam diffusionism, peradaban terbentuk karena eksistensi pusat kebudayaan. Melalui pendekatan ini, Islamic Accounting tidak dipandang sebagai “teknologi” tetapi sebagai “budaya”, bukan sebagai “alat” tetapi sebagai “nilai-nilai”. Sehingga akuntansi harus digunakan untuk membawa kita kembali tidak hanya pada “inti budaya”, tetapi juga “nilai-nilai” kita yang berakar lebih dalam dari inti kebudayaan, yaitu Islam.
Dalam pendekatan diffusionism-antropologis, peneliti menggunakan Antropologi Islam yang direkomendasikan Ahmed (1989) dengan beberapa modifikasi untuk memenuhi tujuan dan meletakkan asumsi yang seharusnya tidak ditinggalkan, yaitu: 1) mengacu pada Al-Qur’an; 2) memandang Islam tidak dalam perspekstif sosiologis (Islam sebagai fungsi), melainkan dalam perspektif teologis (Islam sebagai keyakinan); dan 3) meningkatkan kebutuhan untuk mengembangkan Antropologi Islam (akuntansi) sebagai suatu proses yang berkelanjutan dalam pendidikan (dari sarjana sampai tingkat doktoral).
Antropologi Islam memiliki satu tujuan utama yaitu mencapai masyarakat Islam dimana bahan utamanya adalah tauhid sebagai integrasi nilai. Antropologi Islam pada dasarnya merupakan antropologi terapan, yang berarti bahwa antropologi mengarahkan untuk mengubah masyarakat (tidak dalam pandangan orientalis) dari kekacauan (modernitas/ kapitalisme/ sekulerisme) masyarakat menjadi masyarakat yang tertib dengan menghormati setiap kebudayaan. Dengan pendekatan ini, peneliti menunjukkan bahwa teori akuntansi yang berbeda dan muncul dari nilai yang berbeda pasti akan menghasilkan praktik akuntansi yang berbeda. Peneliti mengusulkan tiga solusi sebagai hasil penelitian yaitu:
1.      Sangat penting untuk dicatat pentingnya kontekstualitas dalam akuntansi sebagai hal yang penting dalam pendekatan antropologi, yaitu harus selalu mengacu pada enam rukun iman. Berarti bahwa akuntansi normatif digunakan, bukan akuntansi positif. Melalui pendekatan synchronic – diachronic yang terpadu, Mulawarman (2011a) menemukan trilogi maisyah-rizq-maal berdasarkan barakah sebagai inti akuntansi. Maisyah merupakan usaha yang dikirimkan manusia untuk menemukan rizq, dan dalam pengumpulan rizq maka assets atau mal akan terbentuk. Konsep ini di bawah payung tauhid, namun dikembangkan melalui studi praktek Islam lokal serta penelusuran kehidupan nabi.
2.   Akuntansi Islam harus kembali pada ontologi fundamental dari sifat manusia, yaitu sebagai abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah fil ardh (perwakilan Allah).
Pada persamaan akuntansi:
a.       Aset = Kewajiban + Ekuitas
b.      Laba = Pendapatan – Beban
Persamaan – persamaan tersebut menunjukkan bahwa kepentingan pribadi sebagai ‘iman’ dengan penekanan pada keuntungan (persamaan b), hal ini merupakan tujuan bisnis yang didukung oleh akuntansi. Laporan Laba Rugi dalam prakteknya merupakan konsekuensi pada Entity Theory. Aset merupakan akumulasi kekayaan (persamaan a) yang juga merupakan inti dari akuntansi konvensional (kapitalisme). Oleh karena itu, berdasarkan teori dan penelitian – penelitian yang dilakukan sebelumnya maka penulis mencoba merumuskan Islamic Accounting melalui antropologi akuntansi Islam. Hubungan yang unik antara Quran dan kontekstual implementasi akuntansi Islam   dapat diabstraksikan dan direkontruksi. Misalnya dengan menggunakan Shariah Enterprise Theory dan aplikasi trilogi maisyah-rizq-maal dengan menggunakan abdullah dan khalifatullah fil ardh sebagai sifat manusia, maka praktek akuntansi yang unik akan dihasilkan. Misalnya Laporan Akuntansi yang ditemukan Mulawarman (2011a, 2011b) seperti Shariah Cash Flow Statement based on maisyah, Shariah Value Added Statement based in Rizq dan Shariah Balance Sheet Based On Maal dengan kepatuhan dan kreativitas sebagai representasi abdullah dan khalifatullah fil ardh. Sehingga penelitian ini menemukan konsekuensi atas pengakuan (akuntabilitas keuangan dan sosial), kepatuhan pengakuan (halalan thoyyiban), penilaian berbasis zakat, sistem akrual terbatas yang menolak konsep time value of money (karakter gharar) dan penilaian Al Hisbah untuk melindungi pasar lokal. Selanjutnya untuk menghindari jatuh dalam perangkap kepentingan pribadi, zakat harus menjadi wacana utama dalam akuntansi syariah.
3. Membangkitkan kesadaran melalui pendidikan (pendidikan akuntansi). Jika pendidikan akuntansi dipimpin untuk mengenali kesadaran nasional dan ummah, maka hasil yang berbeda mungkin akan timbul. Hal ini telah dilakukan di Universitas Brawijaya dengan menggunakan integrasi akuntansi dan nilai-nilai agama untuk membawa kesadaran. Pendidikan akuntansi tidak hanya dipandang sebagai transfer pengetahuan akuntansi, melainkan juga memicu kesadaran kritis dalam semangat lokal kebijaksanaan dan religiusitas.
Dengan pendekatan Antropologi Islam merupakan alat untuk membebaskan akuntansi dari kapitalisme, selain itu untuk mencapai Episentrum masyarakat Islam. Dalam masyarakat ini, akan ada praktik akuntansi yang sangat Quran dan kontekstual sebagai hasil dari pendekatan synchronic – diachronic Antropologi Akuntansi Syariah. Ini hanya bisa dilaksanakan jika akuntansi tidak hanya berpandangan pada diskusi teknis tetapi diarahkan pada diskusi ontologi. Permicu perubahan sudut pandang ontologi terletak pada pendidikan akuntansi yang harus selalu membawa kesadaran pada kesejahteraan masyarakat daripada kesenangan pribadi.
       Akhirnya, kunci yang mendasar dari antropologi Islam dan semua turunannya (akuntansi, ekonomi, dan disiplin lainnya) adalah pengakuan dari corak budaya dibawah tauhid. Nilai Islam adalah universal, tapi nilai-nilai tersebut tidak akan mengurangi corak budaya yang ada sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa semua budaya adalah sama kecuali taqwa.

Read more...

TUJUAN HIDUP AWAL

>> Tuesday, 24 September 2013

     
    Setiap insan yang diciptakan oleh Allah SWT haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dirinya dilahirkan di dunia ini dan apa tujuan dan tugas-tugasnya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Selain itu insan tersebut harus memikirkan seberapa lama dia hidup di dunia ini dan kemana insan tersebut pergi setelah meninggalkan kehidupan dunia ini. Tujuan hidup saya dalam jangka panjang adalah mewujudkan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Dalam menggapai tujuan hidup saya harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Dalam menggapai tujuan hidup tentunya dibagi dalam potongan-potongan yang sistematis untuk mewujudkan tujuan hidup yang utama. Membagi tujuan hidup dalam jangka pendek dan jangka panjang.
      Tujuan hidup saya saat ini karena saya sementara menjadi mahasiswa kembali adalah bisa mendapatkan nilai yang bagus dan bisa lulus dengan memuaskan. Disamping itu saya juga harus mempersiapkan bekal saya untuk kehidupan selanjutnya karena bisa saja saya di panggil oleh Allah sewaktu-waktu. Sehingga saya harus membagi antara kebutuhan dunia dan akhirat dengan imbang.
      Untuk mewujudkan impian jangka pendek saya yaitu bisa lulus tepat waktu dan dengan nilai yang memuaskan, tentunya saya harus belajar dengan rajin dan sesuai dengan mata kuliah yang saya tempuh. Untuk bisa dengan rajin saya belajar tentunya saya harus memotivasi diri saya sendiri untuk bisa melakukan hal tersebut dengan baik. Selain itu saya juga harus memiliki literature yang cukup sehingga proses saya belajar bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan target yang di tetapkan.
      Selain dengan belajar usaha saya untuk mewujudkan nilai yang bagus dan bisa lulus sesuai dengan waktu dan nilai yang memuaskan tentunya saya juga harus disiplin dalam memenuhi absensi kelas dan juga aktif di kelas. Dengan belajar yang rajin tentunya bisa aktif di kelas karena telah mendapatkan pemahaman dan pengertian terlebih dahulu. Selain itu saya juga harus mengerjakan tugas-tugas kuliah yang diberikan oleh dosen dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.

      Untuk mendapatkan keseimbangan tentunya dalam menjalani aktivitas sebagai mahasiswa saya juga harus selalu ingat akan Allah. Ingat akan Allah adalah dengan tertib dan tepat waktu menjalankan sholat lima waktu dan juga membaca Al Quran dengan di sertai terjemahannya.

Read more...

InfinityBux Jelas Bukan SCAM

>> Tuesday, 18 September 2012

    Alhamdulillah setelah sekian lama klik sana klik sini di InfinityBux akhirnya bisa PO juga. Awalnya sempat pesimis juga bisa PO soalnya di tanya di mbah gugel banyak yang bilang klo PTC yang satu ini termasuk SCAM. Tapi tetep optimis bisa melakukan pencairan untuk digunakan sebagai modal di JSStriple aka Profitclicking.

Berikut saya tunjukkan bukti pembayaran dari InfinityBux.



      Proses PO dari InfinityBux berjalan dengan instant dan langsung pada saat itu juga.
Untuk agan-agan yang mau register bisa langsung klok di sini InfinityBux

Read more...